Jumat, 27 Mei 2016

Kabar Buruk Bagi Buruh, Mungkin Hal Ini Juga Bisa Terjadi di Indonesia

Robot Pekerja

Foxconn, pabrik elektronik terbesar dunia, dikabarkan telah mengganti sekitar 60.000 pekerja pabriknya dengan mesin atau teknologi robot. Humas pemerintah Kota Kunshan, Tiongkok, memberitahukan kepada South China Morning Post bahwa pabrik dapat mengurangi pekerja yang dibutuhkan dari 110.000 menjadi 50.000 orang setelah teknologi robot diperkenalkan. Hal tersebut dianggap sukses dalam mengurangi biaya buruh.

Meski Foxconn telah mengkonfirmasi ke BBC bahwa hal tersebut digunakan untuk mengotomatisasikan banyak operasi pabrik, perusahaan tersebut membantah pemasangan robot baru dimaksudkan untuk mengurangi pekerja manusia. Sebagai gantinya, Foxconn menyebut hal itu untuk menggantikan pekerjaan berulang yang sebelumnya dikerjakan oleh buruh sehingga memungkinkan buruh mengerjakan tugas yang lebih penting di pabrik seperti riset dan pengembangan, dan kontrol kualitas.

"Kami akan terus menjalankan otimatisasi robot dan kekuatan manusia dalam operasional pabrik," jelas Foxconn ke BBC. "Dan kami harap untuk menjaga tenaga kerja yang signifikan di Tiongkok."

Sementara itu, South Morning Post juga melaporkan bahwa tahun lalu, 35 perusahaan Taiwan termasuk Foxconn, telah menghabiskan total empat miliar Yuan (sekitar USD 609 juta) pada kecerdasan buatan. Banyak dari perusahaan itu mempekerjakan sepuluh dari seribu di Kunshan, dimana dua-tiga dari 2,5 juta orang adalah pekerja asing. Mengacu ke survey pemerintah, 600 perusahaan di Kunshan berencana untuk mengikuti langkah Foxconn.

Pada tahun 2002, laporan dari Fair Labor Association memperlihatkan bahwa kondisi lingkungan kerja pada fasilitas pabrik Foxconn —dimana kebanyakan produk Apple dibuat— berada di bawah standar. Keduanya, Apple maupun Foxconn, setuju untuk meningkatkan kualitas kondisi lingkungan kerja untuk pekerjanya.


SUMBER

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Siaran pers, kerja sama, pemasangan iklan dll, dikirim ke email: redaksi[at]radarempoa.com