Minggu, 14 Februari 2016

Perdebatan Isu LGBT Bisa jadi Sumber Perpecahan, Ketahui Masalah Ini dari Sudut Pandang yang Berbeda


Rainbow Flag, simbol komunitas LGBT

Isu yang sedang diperdebatkan belakangan ini adalah tentang LGBT. Bagi yang kurang familier dengan istilah itu. LGBT adalah singkatan dari Lesbi Gay Biseksual Trangender. Sebenarnya isu LGBT ini sudah jadi problema dari zaman dulu, namun baru heboh sekarang karena kampanye pro LGBT semakin marak.

Lesbi atau lesbianisme adalah hubungan seksual yang terjadi antara sesama wanita. Gay atau dikenal juga dengan homoseksual adalah hubungan seksual yang terjadi di antara sesama pria. Biseksual merupakan orientasi seksual seseorang yang berubah-ubah, tanpa mempedulikan gender. Transgender ialah perbuatan menyerupai lawan jenis seperti cara berbicara, berpakaian, berprilaku, dan termasuk aktivitas seksualnya.

Berdasarkan pengamatan Kru RRN, perdebatan tentang isu LGBT di Indonesia saat ini dimulai pada 26 Juni 2015 ketika pernikahan sesama jenis diresmikan oleh Pemerintah Amerika di Amerika. Kampanye dukungan untuk kaum LGBT pun marak ditunjukkan di jejaring sosial dengan tagar #LoveWins. Hal tersebut mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan, salah satunya adalah CEO Facebook Mark Zuckerberg dengan menghadirkan fitur di Facebook yang menambah profil picture penggunanya dengan warna pelangi (Rainbow Flag).

Awalnya isu LGBT ini tidak begitu dipedulikan, namun mulai Januari 2016, semakin banyak masyarakat khususnya Netizen yang menyuarakan aspirasinya dalam mendukung maupun menentang. Beberapa aplikasi komunikasi (WhatsApp, LINE)memberikan dukungan kepada kaum LGBT dengan menghadirkan emoticon khusus. Bahkan CEO Starbucks berani mengeluarkan pernyataan bagi masyarakat yang menolak LGBT untuk mencari tempat lain untuk minum kopi selain di Starbucks.

Sebagian masyarakat yang mendukung LGBT berpendapat bahwa LGBT itu merupakan hak asasi manusia (HAM). Lebih lanjut lagi mereka menjelaskan bahwa LGBT itu ibarat jiwa yang terperangkap dalam tubuh yang salah. Misal jiwa pria dalam tubuh wanita, atau sebaliknya. Mereka juga menggambarkan, sehebat apapun pengobatan atau paksaan yang diberikan, prilaku LGBT tidak akan bisa berubah. Ibarat orang normal yang suka lawan jenis dan mensyukuri gender yang diberikan Tuhan, maka itulah perasaan LGBT. Mereka juga menolak penggolongan LGBT sebagai penyakit kejiwaan.

Masyarakat yang menentang LGBT, kebanyakan dari kaum agamis, meski banyak juga dari golongan umum. Mereka berpegangan kepada ajaran dan logika bahwa manusia itu harus berpasangan dengan lawan jenis untuk kelangsungan umat manusia, menghindari berbagai macam penyakit kelamin, dan mendapat restu Tuhan. Mereka mengisahkan kaum Nabi Luth yang diazab Allah karena tidak mau bertobat dari perbuatan homoseksual, kemudian logika ringan seperti kutub magnet positif dan negatif yang saling tarik menarik karena perbedaan, sampai stop kontak dengan colokan yang dapat bekerja dengan baik karena ujungnya berbeda.

Ketika ada penentang LGBT yang menyuarakan penolakannya terhadap isu ini, salah satunya adalah pemuka agama seperti Aa Gym yang memposting di Facebook-nya bahwa ia berhenti menggunakan LINE karena ada stiker yang mendukung perbuatan LGBT, para pendukung LGBT menyerangnya dengan menyarankan untuk berhenti menggunakan Facebook karena pemilik jejaring sosial nomor 1 itu juga mendukung LGBT.

Begitu juga ketika masyarakat pendukung LGBT menyuarakan pendapatnya, pihak yang kontra tidak mau kalah dengan membombardir pihak yang pro dengan dalil dan sumber-sumber yang menyatakan bahwa LGBT adalah perbuatan yang super salah.

Jika terus menerus terjadi hal yang semacam ini, solidaritas dan persatuan bangsa Indonesia bisa meregang. Bahkan lebih parah lagi bisa memecah persatuan bangsa sehingga ketika ada ancaman yang masuk, kita tidak bisa menyatukan kekuatan untuk melakukan penolakan karena sudah pecah jadi berkubu-kubu.

Bagi golongan masyarakat yang netral, maksudnya tidak mendukung maupun menentang. Mereka berpendapat bahwa LGBT adalah pilihan, mengenai agama, itu urusan pribadi masing-masing. Namun dengan syarat, jangan mengajak orang lain dengan prilaku seksual normal untuk menjadi LGBT.

1 komentar:

  1. hanya org GILA yg setuju ama tuh LGBT

    http://openmusik.com/

    BalasHapus

Siaran pers, kerja sama, pemasangan iklan dll, dikirim ke email: redaksi[at]radarempoa.com