Senin, 16 Juli 2018

Pro Kontra LGBT, Ketahui Isu Panas Ini dari Sudut Pandang yang Berbeda


Rainbow Flag, simbol LGBT

Isu yang tidak henti-hentinya untuk selalu diperdebatkan adalah LGBT. Bagi yang kurang familier dengan istilah tersebut, LGBT adalah singkatan dari Lesbi Gay Biseksual Trangender. Sebenarnya isu ini sudah jadi problema dari zaman dulu. Namun belakangan kembali heboh karena kampanye pro LGBT yang semakin marak.

Lesbi atau lesbianisme adalah hubungan seksual yang terjadi antara sesama wanita. Gay atau dikenal juga dengan homoseksual adalah hubungan seksual yang terjadi di antara sesama pria. Biseksual merupakan orientasi seksual seseorang yang berubah-ubah, tanpa mempedulikan gender. Transgender ialah perbuatan menyerupai lawan jenis seperti cara berbicara, berpakaian, berprilaku, dan termasuk aktivitas seksualnya.

Berdasarkan pengamatan saya, perdebatan tentang LGBT di Indonesia dimulai pada 26 Juni 2015 ketika pernikahan sesama jenis diresmikan oleh Pemerintah Amerika di Amerika Serikat. Kampanye dukungan untuk kaum LGBT pun marak ditunjukkan di media sosial (medos) dengan tagar #LoveWins. Dukungan datang dari berbagai kalangan, salah satunya adalah CEO Facebook Mark Zuckerberg dengan menghadirkan fitur di Facebook untuk menambah profil picture penggunanya dengan warna pelangi (Rainbow Flag).

Awalnya isu LGBT ini tidak begitu dipedulikan. Hanya saja, mulai bulan Januari 2016, semakin banyak masyarakat, khususnya Netizen, yang menyuarakan aspirasinya dalam mendukung maupun menentang. Beberapa aplikasi komunikasi seperti WhatsApp dan LINE pun memberikan dukungan kepada kaum LGBT dengan menghadirkan emoticon khusus. Bahkan CEO Starbucks berani mengeluarkan pernyataan bagi masyarakat yang menolak LGBT untuk mencari tempat lain untuk minum kopi selain di Starbucks.

Sebagian masyarakat yang mendukung LGBT berpendapat bahwa LGBT merupakan hak asasi manusia (HAM). Lebih lanjut lagi, mereka menjelaskan bahwa LGBT ibarat jiwa yang terperangkap dalam tubuh yang salah. Misal, jiwa pria dalam tubuh wanita atau sebaliknya. Para pendukung juga menggambarkan, sehebat apapun pengobatan atau paksaan yang diberikan, prilaku LGBT tidak akan bisa berubah. Ibarat orang normal yang suka lawan jenis dan mensyukuri gender yang diberikan Tuhan, maka itulah perasaan LGBT. Kaum ini juga menolak penggolongan LGBT sebagai penyakit kejiwaan.

Masyarakat yang menentang LGBT, kebanyakan dari kaum agamis. Mereka berpegangan kepada ajaran dan logika bahwa manusia seharus berpasangan dengan lawan jenis demi kelangsungan hidup manusia, menghindari ancaman penyakit kelamin, dan mendapat restu Tuhan. Para penentang mengisahkan tentang kaum Nabi Luth yang diazab Tuhan karena tidak mau bertobat dari perbuatan homoseksualnya. Kemudian ada pula logika ringan seperti kutub magnet positif dan negatif yang saling tarik menarik karena perbedaan muatan sampai contoh tentang stop kontak dengan colokan yang dapat bekerja dengan baik apabila ujungnya berbeda satu sama lain.

Ketika ada penentang LGBT yang menyuarakan penolakannya terhadap isu ini, sebut saja pemuka agama seperti Aa Gym melalui posting di kronologi Facebook-nya bahwa ia berhenti menggunakan LINE karena ada stiker yang mendukung LGBT, kemudian para pendukung LGBT langsung menyerangnya dengan menyarankan untuk berhenti menggunakan Facebook karena pemilik medos nomor 1 itu juga mendukung LGBT.

Begitu juga ketika pendukung LGBT menyuarakan pendapat, maka pihak yang kontra tidak mau kalah dengan membombardir pihak yang pro dengan dalil dan sumber-sumber yang menyatakan bahwa LGBT adalah perbuatan yang super salah.

Jika pro kontra ini terjadi terus menerus, maka solidaritas dan persatuan bangsa bisa meregang. Bahkan lebih parah lagi bisa memecah persatuan sehingga ketika ada ancaman yang masuk, kita tidak bisa menyatukan kekuatan untuk melancarkan serangan balasan.

Sementara bagi masyarakat yang netral, maksudnya tidak mendukung maupun menentang, berpendapat bahwa LGBT adalah pilihan. Mengenai norma-norma agama, itu urusan dari pribadi masing-masing. Namun dengan syarat, jangan memaksa orang lain dengan prilaku lurus untuk menjadi LGBT.

1 komentar:

  1. hanya org GILA yg setuju ama tuh LGBT

    http://openmusik.com/

    BalasHapus

Siaran pers, kerja sama, pemasangan iklan dll, dikirim ke email: redaksi[at]radarempoa.com