Kamis, 16 April 2020

Logitech G610 Orion Brown: Gaming Keyboard dengan Spesifikasi Sedap, Harga Mantap

Logitech G610

Bicara mengenai keunggulan Logitech G Series, saya tidak meragukannya karena sudah mencoba sendiri dan beberapa produk seri gaming dari produsen perangkat akses komputer tersebut. Belum lama ini, Logitech telah meluncurkan keyboard mekanis dari G Series terbarunya yang diberi nama G610 Orion Brown.

Keyboard terbaik dari Logitech G Series yang pernah saya coba beberapa waktu adalah G710+ yang mana papan ketik dengan desain kokoh itu merupakan yang terbaik yang pernah saya coba dari G Series. Hal yang saya suka dari keyboard gaming ini adalah desainnya yang sederhana seperti papan ketik pada umumnya, namun memiliki banyak fitur unggulan yang membuatnya tidak biasa.

Dari sisi bentuk fisiknya, G610 memiliki panjang 443,5 mm (17,5 inci), lebar 153 mm (6 inci), dengan ketebalan 34,3 mm (1,4 inci). Beratnya sendiri mencapai 1,259 gram (2,8 lbs), cukup berat, yang membuatnya tidak akan bergeming ketika anda menggunakannya. Mengenai tombol di G610, jarak aktuasi 2 mm (0,08 inci), kekuatan 45 gram (1,6 oz), dengan total jarak 4 mm (0,16 inci).

Persyaratan sistemnya, G610 bisa dijalankan pada sistem operasi Windows 10, Windows 8.1, Windows 8, dan Windows 7 yang mana gaming keyboard dengan part number 920-007871 ini menggunakan port USB 2.0 sebagai konektor ke PC.

Dirancang untuk Gaming

G610 Orion Brown terintegrasi dengan teknologi gaming terdepan. Dari sentuhan akhir yang detial seperti tekstur fingerprint-masking matte, kabel braided yang handal. Setiap aspek dirancang secara akurat untuk menghadirkan teknologi Logitech G terdepan serta kualitas konstruksi dengan bentuk yang unik.

Switch Cherry MX Brown Mechanical Key

Jenis tombol ini merupakan standar dalam keyboard mekanik. Switch mekanik memiliki daya tahan lebih lama serta nuansa dan responsivitasnya yang lebih konsisten dibandingkan rubber dome keyboard. Switch Cherry MX Brown yang tidak berisik ini dilengkapi dengan tactile bump untuk kenyamanan saat mengetik. Switch Cherry MX dirancang untuk bertahan lebih dari 50 juta ketukan dan beraktuasi secara akurat.

26-Key Rollover

Tekan semua tombol

Fitur memungkinkan anda dapat melakukan gerakan yang rumit, cepat dan tepat. Dengan 26-key rollover, anda bisa menekan hampir setiap tombol plus tombol modifier (Ctrl, Alt, Shift) dalam setiap urutan dan masih dapat dieksekusi dengan sempurna.

Kustomisasi Pencahayaan per Tombol

Gunakan Logitech Gaming Software untuk memilih level kustomisasi anda dengan kemampuan untuk memilih dan menyesuaikan setiap key backlit. Nyalakan cahaya tombol untuk kemudahan melacak "mantra" dan perintah lainnya. Dengan teknologi ini, anda bisa menentukan backlit tombol mana yang nyala, dan mana yang tidak.

Kontrol Media Mudah Diakses

Kendalikan lagu favorit anda tanpa harus keluar dari game. Keyboard G610 Orion dilengkapi dengan kontrol media yang dapat digunakan untuk play, pause, dan mematikan musik/video secara instan. Gunakan roller untuk menyesuaikan volume atau skip ke lagu berikutnya dengan tombol yang disediakan.

Logitech Gaming Software

Atur game favoritmu dengan kustomisasi tombol makro pada tombol F1-F12 menggunakan Logitech Gaming Software. G610 memberikan kontrol penuh untuk cahaya latar pada setiap tombol. Anda juga dapat mengkustomisasi tombol mana yang akan dimatikan ketika mengaktifkan mode game (secara default, mode game akan menonaktifkan tombol Windows).

Harga Sejalan dengan Kualitas

G610 Orion Brown dibandrol dengan harga IDR 2.190.000 per unit. Mantap harganya!

Baca selengkapnya »

Review ASUS Zenfone 3 Z017DB, Tetap Layak di Tahun 2020

ASUS Zenfone 3

Mampu bersaing dengan smartphone Android terkini dengan selling point "fotografi", namun dengan harga yang sudah lebih murah.

Untuk membuat ulasan tentang ASUS Zenfone 3 Z017DB (model terbaru dari versi global, ZE520KL), saya menghabiskan waktu sekitar sebulan (update artikel, setelah hampir 4 tahun penggunaan) untuk memastikan ketangguhannya sehingga info yang saya berikan kepada kamu mengenai ponsel yang dilengkapi layar Full HD (1080×1920 piksel) IPS berukuran 5,2 inci ini bisa lebih akurat.

Dikarenakan ponsel pintar berbasis Android 6.0 Marshmallow (bisa upgrade sampai Android 7.0 Nougat) ini punya slogan "Built for Photography", maka saya akan fokus membahas tentang pengalaman dalam menggunakan ponsel dengan kamera utama 16 MP ini.

Kebetulan, seminggu setelah mendapatkan ZenFone 3 ini, saya berkesempatan untuk pergi ke Jepang untuk meliput event gaming bertajuk Tokyo Game Show (TGS) 2016. Di sanalah saya merasakan sendiri kehandalan dari ponsel yang dibekali prosesor Qualcomm Snapdragon 625 yang dipadu RAM sebesar 3GB ini, karena mayoritas foto yang saya ambil di acara tersebut, ya menggunakan Zenfone 3, kemudian sebagian lagi menggunakan Zenfone Max dan sisanya dengan kamera DSLR.

Semua foto di artikel ini diambil menggunakan Zenfone 3, baik dengan kamera utama (KU) maupun kamera depan (KD).

KU: Booth SEGA di TGS 2016

Bisa dibilang, pencahayaan di venue TGS agak redup, meski ada beberapa booth yang terang. Namun mayoritasnya redup. Nah, di sanalah slogan Zenfone 3, "Built for Photography" diuji. Alasannya adalah karena kebanyakan kamera ponsel/digital, sebagus apapun kualitasnya, ketika mengambil gambar pada lingkungan dengan pencahayaan rendah, hasilnya akan jelek. Alias kualitas gambarnya akan turun drastis dibandingkan dengan gambar yang diambil pada pencahayaan terang.

Kekurangan dari mayoritas kamera ponsel tersebut tidak terjadi saat saya mengambil gambar menggunakan Zenfone 3. Saya pun sempat memamerkan kualitas gambar yang berhasil diambil menggunakan Zenfone 3 krpada teman saya yang menggunakan DSLR, Canon EOS 700 dengan lensa standar. Teman saya cukup kagum dengan ketajaman gambar dari hape ini. Yah, namun ada momen hasil foto dari ponsel ini tetap blur ketika tangan agak goyang atau cahaya benar-benar gelap atau backlight dari lampu-lampu terang di booth perusahaan game ternama.

KU: Valkyria: Azure Revolution

Fokus kamera ZenFone 3 juga cepat dan akurat. Jadi saya bisa mengambil gambar dengan fokus yang berubah-ubah dengan cepat. Zenfone 3 dilengkapi dengan fitur fokus laser Sony IMX298, jadi memungkinkan hal itu terjadi. Dual LED flash juga tersedia bagi kamu yang menginginkan cahaya tambahan dalam mengambil gambar pada situasi kekurangan pencahayaan.

KU: Chun-Li, Kotobukiya, Akibahara

Kekurangan kamera yang saya temukan di Zenfone 3, ketika cahaya redup atau berlatar belakang hitam, proses fokusnya berlangsung agak lama (kadang salah fokus) sehingga kamu perlu menunggu lebih lama untuk pengambilan gambar atau bahkan ambil gambar ulang. Kalau terburu-buru mengubah fokus, hasil gambar jadi kurang tajam atau bahkan salah fokus. Itu saja sih, selebihnya saya menilai kualitas kamera Zenfone 3 sangat memuaskan.

Selain mengambil foto-foto acara, saya juga menyempatkan diri untuk live-streaming dengan Zenfone 3 melalui Favebook Live. Oh ya, ponsel ini sudah mendukung sambungan internet 4G LTE sehingga proses live-streaming pun lancar jaya. Saya online menggunakan Wifi portable (4G) yang disewa dari Bandara International Haneda, Jepang. Kualitas rekaman dari kameran depan berkekuatan 8 MP juga bagus. Saya sempat merekam video dengan kamera depan Zenfone 3 ketika traveling ke Akihabara, Jepang.

KD: Yodabashi Akiba

KU: Bangunan di Akihabara

Sampel video-nya di bawah ini.

KD: Keliling Akihabara

Video di atas saya resize menggunakan Movie Maker menjadi ukuran maksimal 480 piksel agar lebih cepat ketika diunggah ke YouTube. Maklum, kecepatan koneksi internet yang saya gunakan di rumah tergolong lambat sehingga kalau kualitas videonya terlalu tinggi, nunggu upload-nya lama.

Kamera di Zenfone 3 ini juga telah dilengkapi dengan banyak pilihan mode yang membuat hasil foto jadi lebih optimal. Saya paling suka dengan mode manual, karena memungkinkan saya untuk mengoperasikan Zenfone 3 layaknya DSLR dan lebih mudah untuk menciptakan efek bokeh. Selain itu, melalui mode manual, saya bisa mengatur shutter speed hingga 32 detik.

Manual mode

Mengenai body, sebenarnya enak sih, nyaman digenggam. Layar ponsel berteknologi 2.5D Corning Gorilla Glass 3 juga halus dan licin, nyaman banget saat disentuh serta tidak mudah kotor atau meninggalkan sidik jari secara berlebihan. Namun bersamaan dengan itu, body bagian belakang berlapis kaca yang licin membuat saya was-was ketika menaruh ponsel ini di kantong celana, karena rasanya ponsel ini selalu mau nyelip keluar. Jadi khawatir jatuh. Walhasil, saya perlu menambahkan kofer plastik untuk mengurasi kelicinan dari body ponsel, sekaligus melindunginya dari benturan.

Saya pernah secara tidak sengaja menjatuhkan ponsel dengan internal storage sebesar 32 GB (bisa diperbesar dengan micro-SD hingga 256 GB) ini dari meja kerja ke lantai, syukur alhamdulillah, layarnya tidak pecah ataupun terjadi cacat pada body ponsel yang terbuat dari logam. Namun, jangan coba ini di rumah ya.

Perangkat yang membedakan ponsel ini dengan ponsel Android pada umumnya ialah Zenfone 3 menggunaan USB 2.0 Type-C (kalau sekarang sudah banyak ponsel flagship yang menggunakan USB jenis ini) untuk charging (pengisian baterai) dan transfer data via kabel. Keunggulan USB tipe ini membuat pengguna bisa nyolokin USB ke ponsel dengan mudah tanpa harus mengetahui posisi atas atau bawah socket karena bentuknya yang simetris, selain itu juga kecepatan transfer data jauh lebih tinggi daripada USB Type-A.

Menurut saya, ketahanan baterai lithium-polymer dari ponsel ini cukup lumayan. Berkapasitas 2650 mAh dan tidak bisa dilepas, berbanding lurus dengan performa yang dihasilkan, Z017DB bisa bertahan selama lebih kurang 8-12 jam pada penggunaan normal, antara lain tersambung ke jaringan Wifi dan 3G (saya belum beralih ke kartu-SIM 4G), ambil foto, browsing, live-streaming dan sesekali main game. Untuk ketahanan main game secara hardcore atau non-stop, baterai ZenFone 3 mampu bertahan hingga 4 jam.

ZenFone 3 dilengkapi fitur hybreed SIM card tray yang unik, yaitu slot 1 untuk micro SIM card, dan slot 2 untuk nano-SIM card atau slot 2 dipasang micro-SD untuk meningkatkan kapasitas storage. Harus pilih salah satu, mau dual SIM atau single SIM tapi dengan micro-SD.

Kalau ingin menggunakan ponsel ini secara lebih intens, saya sarankan kamu membawa power bank. Kalau kamu yang gemar dengan brand ASUS, gunakanlah ZenPower.

***

Well, demikianlah sedikit review saya tentang ASUS ZenFone 3 Z017DB. Sebenarnya artikel ini pertama kali saya terbitkan sejak 9 Oktober 2016, namun karena saya merasa bahwa hape ini masih layak untuk tahun 2020 maka saya angkat lagi ulasannya, dengan sedikit tambahan yang membuat keterangannya lebih lengkap.

Perlu diketahui juga, kinerjanya setiap tahun pasti menurut, khususnya pada daya tahan baterai yang semakin cepat habis. Entah itu karena kualitas elemen baterainya yang menurun atau beragam update aplikasi serta sistem operasinya yang semakin membutuhkan kinerja yang lebih tinggi. Kalau untuk penggunaan media sosial seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, YouTube dan sejenisnya, kinerja ZenFone 3 ini saya rasa masih lebih dari cukup.

Baca selengkapnya »

BoodiGo: Jangan Pernah Biarkan Anak Anda Mengaksesnya

Berbahaya!

Dikabarkan bahwa mantan staf Google bernama Colin Rowntree telah menciptakan situs mesin pencari yang dikhususkan untuk pencarian konten porno. Mesin pencari itu bernama BoodiGo.

Cara kerja BoodiGo sama sepeti Google, tetapi kata atau keywords apapun yang dimasukkan ke mesin pencari itu aman menuju ke laman situs porno.

BoodiGo hanya akan merekomendasikan penggunanya ke situs yang aman, tanpa virus dan legal sehingga mesin pencari ini tidak akan membawa pengguna ke laman situs porno jebakan, ilegal atau mengandung virus.

Meski secara sistem aman, tetapi secara prikis tetap membahayakan. Dikhawatirkan anak yang belum cukup umur akan mendapatkan pengaruh buruk dari situs ini.

"Orang tua harus waspada dengan situs yang diakses oleh anak di internet, jangan sampai mereka mengakses situs-situs yang menyediakan konten porno. Apalagi mesin pencari konten porno seperti BoodiGo ini," jelas Bang Fakry, warga yang berharap dapat menjadi tokoh masyarakat Rempoa di masa depan.

Baca selengkapnya »

Review ASUSPRO P1440UA, Laptop Kerja yang Asyik untuk Hiburan

asuspro p1440ua i3
Desain elegan

ASUS memiliki banyak seri laptop yang masing-masing punya keunggulan tersendiri, mulai dari laptop mainstream, laptop komersil, laptop gaming sampai ultrabook. Dari sekian banyak variasi itu, mungkin yang agak asing dan jarang terdengar adalah laptop komersil ya, sebab laptop jenis ini memang lebih ditujukan untuk kalangan profesional atau perusahaan dibandingkan untuk masyarakat umum seperti laptop mainstream.

Saya juga jarang sih menemukan laptop komersil dari ASUS. Namun, berdasarkan testimoni dari teman, laptop ASUS jenis ini memiliki kinerja bandel dan tidak lekang oleh waktu, alias kinerjanya bisa tetap oke meski sudah bertahun-tahun digunakan.

Beruntung, saya mendapat kesempatan dari ASUS untuk mengulas salah satu laptop komerasilnya, yakni ASUSPRO P1440UA. Laptop ini punya banyak model yang dibedakan berdasarkan prosesor, storage, dan aksesoris pendukungnya.

asuspro p1440ua i3
Review ASUSPRO P1440UA

Variasi prosesornya sendiri mulai dari Intel Core i7 sampai i3 yang semuanya sudah generasi kedelapan, kemudian tipe storage-nya ada HDD hingga 1 TB dan SSD hingga 256 GB atau kombinasi dari kedua itu. Dibedakan juga berdasarkan kualitas layar, yaitu HD (1366x768) atau Full HD (1920x1080). Aksesori pendukung lainnya, seperti optical disk drive. Unit yang saya ulas kali ini adalah yang punya prosesor Intel Core i3-8130U, storage SSD 256 GB tanpa HDD, layar HD dan tidak dilengkapi optical disk drive.

Sebagai laptop kerja dengan layar berukuran 14 inci, tentu ada keunggulan dari laptop ini, antara lain ringan dan sangat ringkas. Bobotnya sekitar 1,6 kilogram saja sehingga tidak akan menjadi beban dalam perjalanan. Dimensi panjang 34 cm, lebar 25 cm dan ketebalan 2,3 cm. Mengenai layar, ASUSPRO P1440UA dilengkapi lapisan anti-glare yang mencegah layar memantulkan cahaya dan gambar yang tidak perlu serta meningkatkan kualitas warna, ketajaman gambar, kenyamanan pandangan. Engsel layar pun bisa dibentangkan hingga 180 derajat. Resolusi layar yang cuma HD pada ASUSPRO P1440UA akan membuat konsumsi daya baterai jadi lebih hemat sehingga pengguna bisa bekerja lebih lama di laptop ini.

Laptop yang ditujukan untuk pengguna profesional harus siap untuk tampil dalam kondisi apapun. Nah, ASUSPRO P1440UA ini punya port yang sangat lengkap, mulai dari USB port, SD card reader, RJ45 LAN jack, 3.5 mm audio jack, HDMI port, bahkan di laptop ini masih ada VGA port, serta Kensington lock untuk mengikat laptop dengan kabel pada kaki meja atau landasan lain.

kelengkapan ports
Atas ke bawah: Sisi depan, kanan dan kiri

Fitur nirkabel yang tersedia, yaitu 802.11ac (Wifi) dan Bluetooth 4.1. ASUSPRO P1440UA juga dilengkapi Webcam dan microphone untuk keperluan video call atau conference, fingerprint reader untuk keamanan ekstra dan panel khusus di bagian bawah sebagai akses untuk menambah RAM dan storage (tinggal buka sekrupnya menggunakan obeng).

Panel khusus

Mengingat ASUSPRO P1440UA ditujukan untuk keperluan bisnis, maka laptop ini hanya dibekali kartu grafis bawaan dari Intel, yaitu Intel UHD 620 alias tidak memiliki dedicated VGA untuk mengolah grafis yang berat. Dengan perlakuan seperti itu, harapannya sih pengguna bisa jadi lebih fokus untuk kerja dan tidak ter-distract untuk main game.

Meski tidak ada dedicated VGA, bukan berarti tidak berdaya untuk gaming atau design grafis. Untuk iseng main game, ASUSPRO P1440UA masih bisa diajak kompromi, walaupun tidak cukup memuaskan karena hanya bisa menjalankan game dalam kualitas paling rendah atau very low, seperti yang telah dicoba, yaitu Overwatch, Fortnite: Battle Royale dan Counter-Strike: Global Offensive. Tidak direkomendasikan memainkan game tersebut di laptop ini, karena selain akan sangat membebani prosesor, pengalaman gaming juga tidak asyik sama sekali. Sering stuttering dan lag. Bisa-bisa, kamu hanya menjadi bulan-bulanan musuh.

Dalam kotaknya, saya mendapat ransel

Walaupun begitu, tetapi ada beberapa game yang bisa dimainkan dalam kualitas normal, tetapi itu game PC lama yang popularitasnya sudah tergantikan dengan game baru, seperti Tomb Raider, Left 4 Dead 2 dan Bully: Scholarship Edition. Kalau game lama seperti itu, mungkin masih direkomendasikan untuk dimainkan di ASUSPRO P1440UA, karena masih bisa dimainkan dengan mulus serta pengalaman gaming-nya juga masih sangat nyaman.

Bagaimana dengan suaranya? Awalnya saya tidak terlalu berharap dengan suara yang dihasilkan oleh laptop ini. Hanya saja, ketika saya mendengar lagu populer Sabyan Gambus yang berjudul “Ya Maulana” di laptop ini, secara mengejutkan suara yang dihasilkan oleh 2 speaker-nya yang berada di bagian bawah terdengar sangat bagus. Suaranya jernih dan dalam. Memuaskan!

kenyamanan asuspro p1440ua
Dibuat untuk kenyamanan bekerja

Selanjutnya, saya akan mengulas touchpad. Mungkin tidak banyak yang menyadari kalau touchpad yang bagus itu seharusnya punya fitur touch gesture. Jadi, tidak cuma untuk menggerakkan pointer mouse, klik kanan atau klik kiri saja. Namun, ada pola sentuhan yang bisa menjadi shortcut untuk menjalankan operasi tertentu. Misalnya yang ada di laptop ini, antara lain sentuhkan dua jari pada touchpad untuk operasikan klik kanan, usapkan empat jari ke atas atau ke bawah untuk menjalankan scroll mouse atas bawah, usapkan empat jari ke bawah untuk minimize semua jendela aplikasi, usapkan empat jari ke atas untuk mengembalikan jendela aplikasi yang telah di-minimize, usapkan empat jari ke kanan atau ke kiri untuk pindah ke jendela aplikasi lain, cubit ke luar atau ke dalam untuk operasi zoom-in dan out.

Terakhir, tentang baterainya nih. ASUSPRO P1440UA dilengkapi baterai 4 cell 44 Wh. Berdasarkan informasi yang ditampilkan pada indikator baterai di laptop, secara teori ASUSPRO P1440UA ini bisa bertahan antara 5 sampai 6 jam. Yep, meskipun daya tahan energi baterai itu relatif, karena tergantung dari aktivitas dan beban kerja yang diberikan oleh pengguna. Hanya saja, untuk penggunaan normal, seperti browsing, menulis naskah di Google Doc, MS Office dan sejenisnya, baterai laptop ini tergolong hemat. Charging adalter-nya lumayan kecil sehingga tidak makan banyak space saat dibawa di dalam tas.

ringan dibawa
Ringan dan ringkas

Well, itulah ulasan saya setelah menggunakan ASUSPRO P1440UA versi prosesor i3 selama lebih kurang dua minggu. Secara keseluruhan, laptop ini sangat memuaskan ketika digunakan untuk produktivitas dan hiburan. Dengan spesifikasi yang ditawarkan, pengguna akan lebih fokus untuk menyelesaikan tugas dan kecil kemungkinan tergoda untuk main game AAA kekinian. Meski ditujukan untuk bekerja, laptop ini tampil dengan desain cover bertekstur metal yang elegan sehingga kamu bisa tetap tampil gaya di depan klien pada saat presentasi proyek.

Baca selengkapnya »

Cara Pasang Google Camera di ASUS ZenFone Max Pro M2 Tanpa Root

google camera mod
Google Camera

ZenFone Max Pro M2 merupakan smartphone Android dari ASUS dengan kinerja yang sangat memuaskan. Smartphone dengan harga terjangkau ini tidak hanya unggul pada prosesor dan baterai, tapi lebih dari itu, kameranya juga mampu menghasilkan foto yang cukup memuaskan. Dibanding seniornya, M1, M2 punya hasil foto yang jauh lebih baik.

Sebelumnya, diketahui bahwa M1 punya Camera2 API yang dibutuhkan untuk menjalankan Google Camera (GCam) versi modifikasi (Mod) yang menjadi alternatif bagi pengguna yang menginginkan foto dengan kualitas yang lebih baik dari smartphone tersebut. Nah, sama seperti M1, ternyata M2 juga memiliki fitur yang sama. Hanya saja, pengguna harus mengaktifkannya terlebih dahulu menggunakan PC atau laptop.

Mau tau cara mengaktifkan Camera2 API tanpa root untuk menjalankan GCam di ZenFone Max Pro M2? Ikuti tips dan trik berikut ini ya!

Download software yang dibutuhkan terlebih dulu, yaitu platform-tools dan Google Camera Mod APK.

Setting di smartphone
  • Pergi ke menu Setting kemudian buka System lalu ke About Phone (biasanya ada di paling bawah)
  • Di About Phone, tap 7 kali pada Build Number sampai ada pemberitahuan “You are now a developer”
  • Balik ke Setting, sekarang di sana sudah ada pilihan Developer Option, buka itu dan aktifkan USB Debug
  • Matikan (shutdown) smartphone, kemudian masuk ke moda Bootloader dengan cara hidupkan smartphone dengan menekan tombol power dan volume down secara bersamaan, ketika logo ASUS muncul maka lepas tombol power (tombol volume down tetap ditekan, ya)
  • Muncul banyak pilihan tuh, kamu pilih Run to Bootloader
  • Persiapan di sisi smartphone selesai

Pengaturan di PC
  • Sambungkan smartphone dengan PC menggunakan kabel data 
  • Buka folder platform-tools (download DI SINI) menggunakan Command Prompt (caranya, tahan tombol Shift kemudian klik kanan di folder yang ingin dibuka, sebagian OS ada yang menjalankan PowerShell sih, tidak masalah)
  • Masukkan kode ini, pilih salah satu saja berdasarkan aplikasi yang digunakan.
  • Windows Command Prompt: fastboot oem enable_camera_hal3 true
  • Windows PowerShell: .\fastboot oem enable_camera_hal3 true
  • Kalau berhasil, akan muncul pemberitahuan OKEY, jika gagal FAILED
  • Selesai deh, restart smartphone kmau dengan menekan tombol power agak lama, dan install file APK Google Camera (download DI SINI) yang kamu inginkan
  • Sekarang kamu sudah bisa menggunakan Google Camera di ZenFone Max Pro M2

Okey, itulah langkah-langkah yang diperlukan untuk menjalankan Google Camera di ASUS ZenFone Max Pro M1. Berdasarkan pengalaman sendiri selama menggunakan GCam di M2, hasilnya selalu memuaskan, khususnya pada mode HDR. Dan ya, cara tersebut juga bisa digunakan pada M1.

Akhir kata, selamat mencoba!

Baca selengkapnya »