Minggu, 18 Desember 2016

Master Fakry: Gamer Ini Berhasil Wujudkan Impian Pergi ke Akihabara, Jepang

Donki, Akihabara

Mungkin ini adalah perjalanan yang paling luar biasa yang pernah penulis lakukan, yakni pergi ke Jepang dalam rangka business trip untuk meliput jalannya event gaming terbesar di Jepang yang berjudul Tokyo Game Show (TGS) 2016.

Oh iya, pekenalkan, nama asli penulis adalah Fakry Naras Wahidi. Dikenal di industri game dengan julukan Master Fakry. Penulis sudah berpengalaman dalam industri game Indonesia sejak tahun 2008 sebagai staf sub-game master di publisher game online.

Melalui artikel ini penulis ingin mengajak untuk sejenak mengikuti perjalanan tersebut. Yah, mungkin saja kisah yang ditulis ini dapat menjadi pelajaran bagi Anda yang ingin ke Jepang atau sekarang menambah pengetahuan mengenai Negeri Matahari Terbit itu.

Yuk simak perjalanan penulis selama bertugas di Jepang!

Day 1: Keberangkatan

Berkemas dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Agak nervous karena baru kali pertama ke luar negeri. Dan langsung ke Jepang, negara yang bahasanya belum penulis mengerti. Rabu (14/9), jam 20.30 WIB penulis terbang menggunakan paskapai penerbangan Air Asia dari bandara Soekarno-Hatta menuju Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2) untuk transit.

Day 2: Transit di Kuala Lumpur

Sampai di KLIA2 jam 12.10 GMT +8, akhirnya penulis pun nginep di bandara. Untunglah badara ini sangat nyaman untuk tidur-tiduran. Di tengah malam, para penumpang yang transit bisa tidur di kursi atau lounge yang terletak di sudut area transit.

Merasa haus, penulis membeli Ringgit (MYR) ke money changer yang buka 24 jam di sekitar area tersebut menggunakan Rupiah (IDR). Penulis menukaran IDR 100.000 (penukaran minimal), dengan uang segitu penulis mendapat MYR 29. Setelah beli air mineral ukuran 600 ml seharga MYR 4, penulis baru menyadari kalau ada dispenser air gratis di dekat mushola pria. Agak menyesal sih, tapi ya sudahlah.

Setelah minum, penulis tidur ngemper di Movie Lounge bersama penumpang lain. Dikarenakan AC yang terlalu dingin, penulis pindah ke lorong dekat mushola pria. Suhu udara di sana lebih nyaman dan ada kursi panjang yang bisa dipakai untuk tidur.

Tidur di kursi bandara, Malaysia

Kamis (15/9), jam 15.30 GMT +8, penulis terbang dari KLIA2 untuk menuju destinasi sesungguhnya, yakni Haneda Airport di Tokyo, Jepang. Sampai di Haneda sekitar jam 20.00 GMT +9. Dan lagi-lagi penulis menginap di bandara karena sudah kehabisan jadwal bus.

Menginap di Haneda Airport sangat berbeda dengan KLIA2. Di bandara Jepang ini para pelancong tidak boleh tidur lesehan di lantai. Jadi kalau mau tidur ya harus di kursi. Dan di malam hari, orang yang tidur di bandara ini banyak banget.

Keesokan hari, penulis langsung berangkat dari Haneda ke penginapan menggunakan transportasi umum, bus dan kereta. Harga tiket bus di Jepang ternyata mahal, bisa dua kali lipat dibandingkan tiket kereta. Dan  penulis menyarankan untuk tidak naik taksi karena ongkosnya mahal parah, bisa 10 kali lipat harga tiket kereta untuk jarak yang sama.

Day 3: Liputan TGS 2016 - Part 1

Sampai ke penginapan, istirahat sejenak untuk isi tenaga buat liputan hari kedua business day TGS 2016. Sayang, penulis melewatkan opening ceremony dan gala dinner bersama para tokoh game Jepang pada hari pertama.

Jumat (16/9), liputan TGS 2016 di mulai. Ini adalah pengalaman pertama penulis untuk liput event game kelas dunia di luar negeri sekaligus pertama kali penulis menginjakkan kaki di luar negeri dan pertqmaa kali ke Jepang. Pokoknya pengalaman baru dalam karir penulis sebagai jurnalis.

Dari penginapan ke Makuhari Messe penulis naik kereta. Mayoritas informasi di stasiun kereta menggunakan bahasa Jepang. Penulis bingung, sehingga banyak tanya ke layanan informasi, yang kebanyakan mereka juga kurang bisa bahasa Inggris sehingga kami tanya jawab menggunakan bahasa isyarat. Lurus, belok, kanan, kiri, naik, dan turun adalah isyarat yang mudah dimengerti.

Hatsutomi Station, Chiba

Sempat salah jalur saat naik kereta, namun untungnya bisa kembali ke arah yang benar. Di Indonesia saja jarang naik kereta, apalagi di Jepang, transportasi utamanya adalah kereta. Sampai di Makuhari Messe sudah hampir sore, TGS 2016 tutup jam 17.00 GMT +9.

Khawatir tidak bisa mencakup keseluruhan acara, penulis putuskan untuk ambil foto-foto booth beserta isinya dari para perusahaan game besar terlebih dahulu, antara lain PlayStation, Bandai Namco, Bethesda, SEGA, Capcom, Konami, dan Square Enix.

Booth SEGA

Tidak lupa juga menyambangi dan mengabdikan moment bersama game developer Indonesia di Paviliun Indonesia dan teman-teman mahasiswa Indonesia yang juga hadir di TGS 2016.

Paviliun Indonesia

Day 4: Liputan TGS 2016 - Part 2

Sabtu (17/9), penulis meliput berlangsungnya acara TGS 2016 yang telah memasuki public day. Dalam masa public day ini, orang umum sudah diperbolehkan untuk masuk sehingga jumlah pengunjung meningkat berkali-kali lipat dibanding pada business day. Itu yang penulis dengar dari teman yang pernah datang ke TGS 2015.

Kenyataanya? Ya, memang seperti itu. Pengunjung membludak, dan semua booth game dipadati dengan antrean gamer yang ingin menjajal game terbaru yang diincarnya. Apabila antre di business day cuma sekitar 30 menitan, maka di public day ini antre bisa sampai sejam atau lebih.

Agak sulit cari makanan yang tidak mengandung babi (B2) di Jepang. Namun apa boleh buat, babi haram untuk penulis, sehingga harus tanya terus ke penjual makanan untuk memastikan makanan yang dibeli itu bebas dari babi. Pada akhirnya, penulis menemukan menu yang cocok, yakni Takoyaki. Setidaknya makanan ini tidak mengandung B2.

Booth SEGA, Valkyria: Azure Revolution

Pada hari kedua penulis di TGS, kaki sudah mulai mati rasa. Jalan dari penginapan ke stasiun kereta terdekat yang berjarak 1,2 Km, lalu sampai TGS liputan jalan kaki wara-wiri dari hall 1-8, hall 9-11, dan bolak balik antara hall itu yang luas banget (mungkin 3 kali lipat Jakarta Convention Center). Belum lagi pulangnya, penulis harus menempuh jarak yang sama dengan berjalan kaki dan naik kereta, itu bukan kebiasaan penulis di Jakarta. Pantaslah kalau kaki pegel banget, kaki masih bisa melangkah maju saja sudah syukur banget.

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang TGS 2016, penulis dan tim melakukan live-streaming via Facebook. Pada pagi hari, opening di depan Makuhari Messe, siang hari keliling hall 4-6 yang kala itu suasananya rame banget, dan sorenya keliling hall 7-9 ketika penutupan TGS 2016 public day 1.

Day 5: Liputan TGS 2016 - Part 3

Minggu (18/9), merupakan TGS 2016 public day 2 sekaligus hari terakhir berlangsungnya acara game ini. Hari ini cuaca agak mendung dan sedikit gerimis. Rasa pegal di pergelangan kaki dan betis akibat aktivitas di hari Sabtu belum hilang. Agar bisa meliput lebih banyak, penulis putuskan untuk datang ke venue TGS 2016 lebih pagi.

Ternyata, jumlah pengunjung yang datang jauh lebih banyak dibanding hari Sabtu. Gokil, antrenya panjang banget. Bahkan kepadatan pengunjung sudah dimulai dari Kaihin-Makuhari Station. Mayoritas orang yang turun di stasiun tersebut pasti mau ke TGS.

Di hall 9-11 Makuhari Messe ada banyak cosplayer yang bermunculan. Mulai dari culun sampai yang ngetop, dari cosplayer dewasa hingga yang masih anak-anak. Untuk dapat memfoto mereka, para fotografer harus antre terlebih dahulu yang mana antreannya itu tidak pendek apalagi yang cospaly-nya keren dan cantik.

Puncak keramaian terjadi saat wawancara dengan pencipta game, Hideo Kojima, di booth PlayStation yang membahas tentang Death Stranding. Usai wawancara, para pengunjung yang berjubel di booth PlayStation itu langsung bubar grak seperti "bom" yang meledak. Itu orang keluar bareng, umpel-umpelan, dari hall 5 sehingga membuat area TGS terasa lega.

Talkshow Kojima

Sekitar jam tiga sore waktu setempat, penulis putuskan untuk meninggalkan venue TGS 2016 karena semua booth game yang seru sudah berhasil diliput. Selain itu, penulis tidak mau pulang bareng dengan keramaian pengunjung TGS di stasiun kereta.

Day 6: Akihabara - Part 1

Usai liput TGS 2016, tempat yang sangat ingin penulis kunjungi di Jepang adalah Akihabara. Menurut teman-teman penulis di Indonesia, Akihabara adalah "tanah suci"nya para otaku. Video game, musik, figure, mainan, maid cafe, doujin, komik, barang elektronik, dan adult store ada banyak di sana.

Akihabara

Pada Senin (19/9), hari pertama menginjakkan kaki di Akihabara, penulis dipandu oleh om Ami Raditya, notaris dari kota Gresik sekaligus pemilik situs game Indonesia. Penulis diajak keliling ke lokasi-lokasi ikonis di Akihabara seperti Donki (Don Quijote), mampir showroom Tamashi Nation, AKB48 Cafe, Gundam Cafe dan Yodabashi-Akiba.

Don Quijote, Akihabara

Ketika masuk ke Donki, untuk pertama kalinya penulis melihat sendiri kenyataan dari adult store di Jepang, yakni Tenga Shop. Di dalamnya terdapat seks toys, aksesori, DVD Japan Adult Video (JAV) dan kostum sensual. Belum hilang rasa terkejut penulis, teman bilang kalau ini belum ada apa-apanya, karena masih ada toko yang satu gedung isinya barang "begituan" semua, namanya Pop Life Department.

Yodabashi-Akiba

Benar saja, ketika penulis masuk ke Pop Life, isinya memang cuma JAV, seks toys untuk pria dan wanita, kostum sensual serta beragam aksesori lainnya. Dan satu lagi adult store yang penulis kunjungi berada di sebelah toko Book Off.

Usai keliling Akihabara, penulis pisah sama om Ami dan pergi ke Tokyo Station untuk beli oleh-oleh, yakni Tokyo Banana. Ternyata, Tokyo Station itu luas banget, rame, dan banyak toko di dalamnya. Bagi penulis yang baru pertama ke sana, agak bingung dan kesasar di stasiun. Dibandingkan dengan stasiun Gambir, Tokyo Station sepertinya lebih megah.

Sempat sih terbersit keinginan untuk naik Shinkansen, tetapi harga tiketnya mahal banget, selain itu juga penulis tidak tahu harus pergi ke mana. Oh ya, gerai yang menjual Tokyo Banana berada di lantai yang sama dengan Shinkansen, kalau tidak salah ingat, ada tiga gerai yang menjajakan makanan unik tersebut. Satu box, isi empat Tokyo Banana, dihargai JPY 515.

Tokyo Banana

Day 6: Akihabara - Part 2

Hujan deras terjadi di Jepang sejak kemarin sore, bahkan diperkirakan akan terjadi topan pada Selasa (20/9). Peringatan tentang kemungkinan terjadi keterlambatan dari moda angkutan umum pun dikabarkan sejak pagi hari. Keren banget pengelolaan transportasi di Jepang ini, keterlambatan saja bisa diprediksi.

Dikarenakan hujan, hari terakhir penulis di Jepang pun akhirnya berakhir di Akihabara lagi. Tadinya sih mau berwisata ke kuil-kuil shinto, namun kalau dipaksakan takutnya pemandangan dan berfoto tidak akan se-asyik kalau cuaca cerah.

Akhirnya penulis kembali ke Akihabara bersama dengan om Ami. Penulis eksplorasi tempat tersebut lebih banyak, masuk ke tempat penjual barang elekteonik super lengkap, toko mainan Kotobukiya, gerai video game, game center, toko doujin dewasa, JAV dan adult store, barang bekas, dan sempat juga mencoba tukar Rupiah di mesin penukaran uang otomatis.

Chun-Li, Kotobukiya

Menuju bandara, penulis transit di Hamamatsucho Station kemudian lanjut naik monorail ke bandara internasional Haneda. Akhirnya penulis mencoba naik angkutan umum yang kalau di Jakarta, Indonesia, masih dalam tahap pembangunan.

Pesawat terbang ke Indonesia sekitar jam 23.30 GMT +9, itupun sudah delay dikarenakan cuaca buruk dan topan yang terjadi di Negeri Matahari Terbit ini. Untungnya penerbangan tidak dibatalkan. Terbang kurang lebih enam jam ke Kuala Lupur.

Day 7: Kepulangan

Sampai di Kuala Lumpur pada Selasa, sekitar jam 6.00 GMT +8. Rebahan sejenak di kursi area transit bandara untuk meluruskan punggung. Kemudian sarapan di Popeye, lumayan enak juga makan ayam di resto yang terletak di lantai 2 KLIA2 ini.

Kali ini transit tidak lama, sekitar jam 10.00 GMT +8 sudah terbang lagi untuk menuju bandara Soekarno-Hatta, Indonesia. Alhamdulillah penerbangan lancar, tidak delay, sehingga bisa sampai di Indonesia sekitar jam 12.00 WIB.



Akhirnya penulis bisa kembali menginjakkan kaki di tanah kelahiran, dan kembali "bermanja" dengan sistem bermasyarakat di negara ini yang nyatanya tidak serapi Jepang (namun penulis suka). Bisa dibilang, harus selalu tertib dan taat aturan itu bikin cape juga.

Dengan bekal pengalaman yang penulis bawa dari Jepang, penulis akhirnya memiliki impian serta cita-cita baru, yakni membuat Kelurahan Rempoa, Tangerang Selatan, menjadi populer dan hits seperti Akihabara, Jepang. Bersama pasti bisa!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Siaran pers, kerja sama, pemasangan iklan dll, dikirim ke email: redaksi[at]radarempoa.com